Oleh: H. Edy Mulyadi
الله أكبر الله أكبر الله أكبر -الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و
أصيلا لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه
مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر
عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا
فأصبحنا بنعمته إخوانا
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و
دين الحق ليظهره على الدين كله
ولو كره المشركون =أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
اللهم صلي على محمد و على آله و
أصحابه و أنصاره و جنوده
و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
فقال الله تعالى في كتابه الكريم:
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ
اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ
الْكَرِيْم. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ ِ
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ،
ولله الحمد
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan syukur
bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan.Itu berarti tidak ada tuhan selain
Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun dan siapa pun yang pantas, yang
berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan dan
penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan
Pemilik jagat raya, pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid,
inti ajaran para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang
harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.
Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan salam tetap
Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman nabiyyinyang
dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan ummatnya pada
kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah terbaik yang tiada
banding dan tiada tanding.
Hari ini gema takbir berkumandang memenuhi langit.
Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar
keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,5
miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan
menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati
yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif
salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita
diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan
bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah
rekam dalam surat TQS. Ash Shafaat [37] : 100-113.
Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak
lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang
telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi
kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna
dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati.
Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas
ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.
Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini sudah
begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar, dan
mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru
kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita
masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya
yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara
Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda
kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang
khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah
kenabian.
Berapa lama di antara kita yang menanti kehadiran si
buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12 tahun, atau
mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai kehidupan
keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari berlalu
berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang
dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah. Namun Ibrahim tidak
putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan
seorang anak yang Amat sabar. (TQS. Ash Shafaat [37] : 100-101)
Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan, melalui
Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi laki-laki
yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada peristiwa
itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan membuncah dari dada
Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di pangkuan.
Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang tercurah
bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun bagai
dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan tawa
bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.
Namun agaknya Allah punya rencana sendiri. Allah ingin
menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu adalah cinta
yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat rindukan itu menjadi
“pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha Agung?
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang
yang sabar". (TQS. Ash
Shafaat [37] ; 102)
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara yang saya
hormati
Perasaan seperti apakah yang menyelimuti Ibrahim saat
mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya? Dapatkah
kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika fisiknya
sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada, Allah
perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan, mengikuti
perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga. Atau,
menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.
Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap saat kita
hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih
tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering lidah
kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering
merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.
Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu yang kita
cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan apa saja
untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail’kita. ‘Ismail’ kita adalah
segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita menuju
taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak
mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’
kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan
kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita
mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.
Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda,
perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat
kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya,
dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru.
Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita
telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang
menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu
billahi mindzalik!
Katakanlah: "Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu,
saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal
yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari
berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan
NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (TQS. Al Ankabut [9] ; 24)
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah agung ini
adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda, yang tengah tumbuh
dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang menantinya, Ismail telah
menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid telah terpatri dengan
sangat kokoh di dadanya.
Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti apakah
yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat
dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya
itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu
menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?
Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda
rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh
kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu
saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi
ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan
perintah Allah tersebut.
“Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan
kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar” (TTQS
ash-Shaffat [37]: 102)
Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari adegan luar
biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi setegar ini? Menu
apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga dia bisa dengan
rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan seperti apa yang
bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu
melaksanakan perintah Allah?
Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah sesuatu yang
instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan
dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran
dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi
Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu membentuk bayi
merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang tak
berpenghuni, menjadi anak muda istimewa.
Hajar telah suskes mentransformasikan
kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang
amat dicintainya. Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari,
setiap detik,setiap saat.
Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini? Adakah
mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru
sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita,
hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar,
penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.
Data-data yang tersaji tentang perilaku anak-anak muda
kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA), misalnya,
pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran
antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh
lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus
tawuran.
Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada 2008
terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta pada
2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta jiwa.
Sementara itu, seks bebas juga marak di kalangan
remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di
kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010
terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah
umur 18 tahun.
Sementara berdasarkan data dari BKKBN tahun
2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau
seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19
tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas.
Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi
setiap tahunnya.
Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita? Kenapa ini
bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak bermoral,
dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?
Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan bernada kecaman
seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah,
dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan pemerintah berada? Apa
yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak itu?
Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris tidak
ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa
menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan
kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih
tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan
keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka?
Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada
anak-anak itu?
Bukankah di rumah kita telah menjadi para diktator
bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada saat yang
sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah melarang
anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok yang
masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang
mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil matanya
tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.
Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada para
siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin dengan
kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan di luar
kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah sibuk
mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk kepentingan
sendiri.
Para pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan
yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja
dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru
sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan
kekuasaan, kekuasaan dan harta.
Teladan telah menjadi barang amat langka di negeri
ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana, arif,
santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap hari
mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan manipulatif.
Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan dengan sangat
telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para pejabat di kursi-kursi
kekuasaannya.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Kalau kita ingin memiliki anak seperti Ismail, maka
dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS. Tentu saja,
tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%,10%, bahkan mungkin 1% dari
kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan seorang ibu seperti
Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%, 25%,10%, bahkan mungkin
1% dari kualitas bunda Hajar.
Pertanyaannya sekarang, seper berapa persenkah para
bapak dan suami zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada tanda-tanda bunda
Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang? Dimanakah kita
bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan keluarga? Apakah dinight
club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain yang menjadi tempat pertemuan
dengan jodoh kita?
Jangan pernah berharap di rumah kita akan hadir
anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak mewarisi
keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para bapak hanya
memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah rupiah yang kita
bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan halalkah kelebihan penghasilan
di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri dalam bentuk nafkah, rumah,
vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi, mobil, dan harta benda lain?
Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan
membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang
memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga
di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu.
Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai
perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini,
yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.
Meski demikian, ada hadits lain yang senada namun
punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai
hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits
shahih. Hadits itu adalah hadits dari Mu'awiyah bin Jahimah. Beliau pernah
mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya:
"Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam
peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda". Rasulullah SAW
bertanya, "Apakah kamu masih punya ibu?". "Punya",
jawabnya. Rasulullah SAW," Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu
di bawah kedua telapak kakinya". (HR. An-Nasai, Ahmad dan
Ath-Thabarani).
Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah, hanya
para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah telapak
kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi para
suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah
Ibrahim yang hanif.
Di tangan para orang tua seperti inilah kelak akan
lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang juga
memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak
lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu
menjadi “sesuai” di kemudian hari.
يمجسانه أوينصرانه أويهودانه
فأبواهالفطرةعلىيولد مولودكل
“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam),
maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”
(HR. al-Bukhari&Muslim)
بنفسكإبدء, mulailah
dari dirimu sendiri.
Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika para
orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari
keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa
menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik
negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika tiap
keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada
lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran antakampung. Tidak ada
lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi baldatun
thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah negara yang baik dan berada di bawah
perlindungan Allah yang Maha Pengampun. Insya Allah, aamiin...
Wallahu a’lam bish shawab
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ
وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوااللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ اَكْبَرْ
Sumber Voa-islam

0 Response to "Qurban dan Pendidkan Tauhid Keluarga"
Post a Comment
Terimakasih atas kunjungan anda
Mohon untuk berkomentar yang sopan, tidak mengandung kalimat yang berbau kekerasan atau kriminal
Dilarang menaruh Link Aktif di Komentar, disitu sudah tersedia Profil Name/Url silahkan dimanfaatkan